WHO Tetapkan Darurat Global Wabah Ebola, 90 Orang Meninggal Dunia

Wabah Ebola kembali menjadi perhatian global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”. Keputusan ini diambil setelah kasus Ebola menyebar dengan cepat, menyebabkan hampir 90 kematian di Demokratik Kongo dan Uganda.

Wabah ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit menular yang bisa berdampak luas. Terlebih lagi, strain Bundibugyo yang menyebabkan wabah ini merupakan varian langka tanpa vaksin atau pengobatan yang terbukti efektif.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi status darurat tersebut setelah berkonsultasi dengan pihak terkait. Ia menekankan bahwa epidemi ini dapat berpotensi menyebar lebih jauh, sehingga langkah-langkah pencegahan harus diambil dengan segera.

Otoritas kesehatan di kawasan ini mengindikasikan risiko penyebaran regional yang tinggi. Beberapa kasus sudah terdeteksi di Uganda dan di Kinshasa, ibu kota Kongo, menunjukkan bahwa wabah ini mungkin dapat meluas ke wilayah lainnya.

Penjelasan Mengenai Wabah Ebola di Afrika Timur

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan terdapat 88 kematian dan 336 kasus suspek Ebola per 16 Mei 2026. Wabah terdeteksi pertama kali di Mongwalu, kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, yang terletak di dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan.

Awal mula penyebaran terkait dengan seorang perawat yang mengunjungi fasilitas kesehatan dengan gejala menyerupai Ebola. Penyebaran diperparah ketika beberapa pasien mencari pengobatan di luar daerah, yang memperluas jangkauan virus ini.

Pemerintah Uganda melaporkan dua kasus terkonfirmasi yang terkait dengan perjalanan dari DRC. Salah satu pasien yang terjangkit meninggal di Kampala, ibu kota Uganda, menambah keprihatinan terhadap penyebaran yang lebih luas.

Karakteristik Dan Penularan Virus Ebola

Ebola merupakan penyakit virus berbahaya yang ditemukan pertama kali pada 1976 di dekat sungai dengan nama yang sama. Virus ini diyakini berasal dari hewan liar, terutama kelelawar, sebelum menular ke manusia melalui kontak langsung.

Penyebaran virus terjadi melalui cairan tubuh seperti darah, muntahan, dan air mani, serta benda-benda yang terkontaminasi. Ketika gejala muncul, seseorang sudah dapat menulari orang lain, menambah kerumitan dalam pengendalian wabah ini.

Gejala Ebola termasuk demam, muntah, diare, dan pada kasus berat, bisa muncul perdarahan internal. Masa inkubasi virus ini dapat berkisar dari dua hingga 21 hari, membuat deteksi dini menjadi tantangan.

Tingkat Kematian Yang Tinggi dan Tantangan Dalam Penanganan

Menteri Kesehatan DRC, Samuel-Roger Kamba, mengungkapkan bahwa strain Bundibugyo memiliki tingkat kematian yang mengkhawatirkan yaitu bisa mencapai 50%. Saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang efektif untuk varian ini, membuat usaha penanganan menjadi semakin sulit.

WHO memperingatkan bahwa negara-negara tetangga berisiko tinggi akibat mobilitas penduduk dan perdagangan lintas batas. Sistem darurat kesehatan perlu diaktifkan, termasuk pemeriksaan di perbatasan dan isolasi pasien yang terkonfirmasi.

Di tengah semua upaya ini, WHO menekankan bahwa penutupan perbatasan perlu dihindari. Pembatasan perjalanan justru bisa memicu jalur penyeberangan ilegal yang memperburuk situasi.

DRC telah mengalami berbagai wabah Ebola sejak virus ini pertama kali ditemukan, dengan 17 wabah tercatat. Wabah paling parah terjadi antara 2018 hingga 2020, merenggut nyawa sekitar 2.300 orang. Secara keseluruhan, Ebola telah menyebabkan kematian sekitar 15 ribu orang, sebagian besar di wilayah Afrika.

Konflik bersenjata di wilayah timur DRC juga menjadi tantangan serius dalam penanganan wabah ini. Kawasan tersebut telah dilanda berbagai konflik yang memengaruhi upaya penanganan dan akses ke layanan kesehatan.

Related posts