Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) kini semakin mendesak pemerintah untuk memperbarui regulasi dalam sektor telekomunikasi dan ekonomi digital. Dalam era digital yang terus berkembang, keseimbangan antara kewajiban operator telekomunikasi dengan manfaat yang diterima menjadi semakin penting untuk diperhatikan.
Sekretaris Jenderal ATSI, Merza Fachys, menggarisbawahi bahwa terdapat ketidakseimbangan yang signifikan dalam industri telekomunikasi saat ini. Pemain baru di sektor digital sering kali mendapatkan keuntungan besar tanpa dibebani kewajiban yang setara dengan operator yang sudah lama beroperasi.
Penting bagi semua pihak untuk memahami konsep keseimbangan distribusi, di mana setiap kewajiban harus sebanding dengan manfaat yang diterima. Jika tidak, kondisi ini dapat mengancam keberlangsungan usaha operator yang telah berinvestasi besar dalam infrastruktur.
Pentingnya Penataan Regulasi di Sektor Telekomunikasi
Penataan ulang regulasi menjadi suatu keharusan untuk menjawab tantangan yang ada dalam industri telekomunikasi. Merza menekankan bahwa saat ini, anomali tersebut merugikan pihak yang setia memenuhi kewajiban regulasi. Dalam konteks ini, pengaturan yang adil dan transparan akan sangat membantu menciptakan iklim bisnis yang lebih sehat.
Berdasarkan pengamatan, banyak operator telekomunikasi yang merasa beban kewajiban yang mereka pikul tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka peroleh. Hal ini tentunya dapat menurunkan motivasi untuk melakukan investasi lebih lanjut, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas layanan bagi masyarakat.
Untuk itu, pemerintah perlu melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses revisi regulasi yang diusulkan. Diskusi terbuka antara operator telekomunikasi dan pihak berwenang diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang konstruktif dan berkelanjutan.
Meninjau Kembali Skema Penerimaan Negara Bukan Pajak
Salah satu isu penting yang diangkat dalam diskusi adalah skema Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencakup Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi. Merza menilai bahwa rumus penghitungan BHP saat ini sudah tidak relevan dengan kondisi yang ada di lapangan.
Contohnya adalah nilai atau indeks harga per megahertz yang masih mengacu pada peraturan lama dari tahun 2010. Hal ini menunjukkan kurangnya adaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar. Frekuensi yang seharusnya menjadi salah satu aset penting dalam bisnis telekomunikasi, malah tidak dihargai dengan sepatutnya, mengingat pergeseran dari layanan suara ke layanan data.
Dengan demikian, perlu ada revisi menyeluruh terhadap parameter yang digunakan dalam penghitungan BHP. Evaluasi ini penting agar rumus yang diterapkan lebih mencerminkan kondisi nyata yang dihadapi industri saat ini.
Kesadaran tentang Perkembangan Teknologi dalam Regulasi
Di era digital saat ini, teknologi berkembang sangat pesat dan memerlukan penyesuaian dalam regulasi yang ada. Merza menekankan bahwa dunia telekomunikasi tidak dapat dipisahkan dari inovasi yang terus bermunculan. Oleh karena itu, peninjauan regulasi harus mencerminkan keadaan tersebut.
Penting untuk menilai bahwa banyak teknologi baru yang memanfaatkan spektrum frekuensi secara efisien. Keterlambatan dalam merevisi regulasi bisa menyebabkan potensi pertumbuhan sektor ini menjadi terhambat, yang pada akhirnya merugikan semua pihak.
Maka dari itu, pengambilan keputusan yang cepat dan berbasis fakta menjadi krusial agar regulasi tidak hanya relevan tetapi juga mendukung kemajuan sektor telekomunikasi dan ekonomi digital Indonesia di masa depan.
Mendorong Kerjasama Antar Pemangku Kepentingan untuk Masa Depan
Untuk menciptakan industri telekomunikasi yang lebih seimbang, kerjasama antar berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci. Merza berpendapat bahwa kolaborasi antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan pengguna akhir adalah langkah penting untuk mencapai tujuan bersama.
Melalui kerjasama yang baik, semua pihak dapat memiliki suara dalam menentukan regulasi yang berlaku. Hal ini tidak hanya memberikan rasa keadilan, tetapi juga mendorong inovasi yang lebih cepat dan berkelanjutan dalam industri telekomunikasi.
Di masa mendatang, penting bagi semua pihak untuk tetap berkomitmen pada dialog dan kolaborasi. Dengan cara ini, diharapkan regulasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat mengatur, tetapi juga merangsang pertumbuhan dan perkembangan dalam sektor telekomunikasi.
