28 Juta Warga RI Mengalami Gejala Depresi, Ini Kelompok Paling Rentan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, baru-baru ini mengungkapkan bahwa sekitar 28 juta orang di Indonesia menunjukkan gejala depresi dan kecemasan. Statistik ini diperoleh dari program Cek Kesehatan Gratis selama tahun 2025, yang menunjukkan betapa seriusnya isu kesehatan mental di masyarakat.

Sementara itu, Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, mengatakan bahwa angka tersebut cukup realistis. Mengingat banyak riset yang menunjukkan beban masalah kesehatan mental di Indonesia cukup signifikan, perlu dicermati bahwa angka ini tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah penderita gangguan jiwa terdiagnosis secara klinis.

“Angka ini sangat tergantung pada definisi masalah kejiwaan yang digunakan, termasuk apakah itu merujuk pada gejala atau diagnosis gangguan mental serta sumber datanya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa meskipun ada gejala, belum tentu menunjukkan adanya gangguan jiwa berat, namun angka ini tetap mencerminkan isu serius dalam kesehatan mental masyarakat.

Penting untuk dicatat bahwa tingginya angka ini menandakan bahwa kesehatan mental adalah masalah besar yang dialami jutaan orang di Indonesia, dan penanganan yang serius sangat diperlukan.

Siapa Saja yang Rentan Terhadap Masalah Kesehatan Mental?

Menurut dr. Riati, ada beberapa kelompok masyarakat yang berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Misalnya, anak-anak dan remaja yang berada dalam fase perkembangan emosi dan identitas, sering kali menghadapi tekanan dari akademik, pergaulan, serta pengaruh negatif dari media sosial.

Selain itu, kelompok usia produktif seperti pekerja juga menghadapi risiko yang signifikan. Stres dari pekerjaan, persaingan yang ketat, dan tekanan ekonomi keluarga dapat meningkatkan kecemasan dan gejala depresi. Dalam konteks ini, perempuan dianggap lebih rentan karena berbagai faktor, termasuk tekanan dari peran ganda di rumah dan tempat kerja.

Masyarakat di perkotaan juga tidak luput dari risiko ini. Hidup dalam ritme yang cepat, tingginya biaya hidup, dan isolasi sosial sering kali menjadi kontributor utama masalah kesehatan mental. Tekanan yang dihadapi oleh masyarakat di lingkungan ini juga meliputi masalah finansial, pengangguran, dan konflik dalam keluarga.

Mengapa Perhatian terhadap Kesehatan Mental Penting?

Keberadaan stigma terhadap masalah kesehatan mental turut memengaruhi banyak orang untuk tidak mencari bantuan profesional. Masyarakat yang memiliki akses layanan kesehatan mental terbatas juga menjadi kelompok yang rentan. Lansia misalnya, sering kali menghadapi kesepian dan kehilangan, yang dapat memicu masalah kesehatan mental lebih lanjut.

Dr. Riati menjelaskan bahwa gangguan jiwa tidak muncul dari satu penyebab tunggal, melainkan bersifat multifaktorial. Interaksi antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual dapat memicu gangguan jiwa ketika keseimbangannya terganggu.

Langkah pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental perlu dilakukan secara menyeluruh. Individu harus berperan aktif dalam menjaga pola hidup sehat dan mengelola stres, kritik dari keluarga dan lingkungan juga penting, selain peran institusi seperti sekolah dan tempat kerja.

Strategi untuk Menghadapi Masalah Kesehatan Mental di Masyarakat

Masyarakat diharapkan dapat mengurangi stigma terkait kesehatan mental. Pemerintah juga perlu memastikan layanan kesehatan mental mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat dan memperluas edukasi mengenai isu-isu kesehatan mental. Ketika masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik, diharapkan akan muncul dukungan untuk mereka yang membutuhkan bantuan.

Deteksi dini adalah langkah penting dalam menghadapi masalah kesehatan mental. Dr. Riati menyarankan agar masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda awal masalah kesehatan mental melalui skrining sederhana. Ini akan membantu mengidentifikasi individu yang memerlukan perhatian lebih cepat dan tepat.

Pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan saling mendukung di rumah, sekolah, dan tempat kerja juga tak bisa dipandang sebelah mata. Praktik ini akan memberikan rasa aman bagi para individu untuk terbuka mengenai masalah yang dihadapi tanpa merasa dihakimi.

Komitmen bersama untuk menghapus stigma sangat diperlukan. Tidak ada yang harus merasa takut atau malu untuk mencari bantuan, dan lingkungan yang mendukung akan berkontribusi positif terhadap kesehatan mental seluruh masyarakat.

Related posts