Puasa 19 Februari Diumumkan Pemerintah, MUI Ajak Hormati Perbedaan

Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI) Anwar Iskandar baru-baru ini mengajak semua warga Indonesia untuk menghargai perbedaan, terutama menjelang penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah. Ini diungkapkannya dalam konferensi pers setelah sidang isbat yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Selasa malam.

Anwar menegaskan bahwa Indonesia terdiri dari beragam latar belakang sosial dan budaya. Menurutnya, perbedaan ini adalah suatu hal yang wajar dan harus dipahami oleh seluruh umat Islam di tanah air.

Dalam kesempatan tersebut, Anwar mendesak agar semua pihak menyadari bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 80 organisasi masyarakat Islam yang masing-masing memiliki pandangan dalam amal ibadah. Hal ini menciptakan keragaman praktik ibadah di tengah masyarakat.

Perbedaan dalam Visi dan Amaliah Ubudiyah di Indonesia

Anwar menjelaskan bahwa perbedaan visi antar organisasi Islam sering kali terfokus pada aspek ijtihad, bukan pada pokok ajaran agama. Ia menegaskan bahwa dalam hal ini, semua umat Islam tetap bersatu dalam tata nilai yang bersifat qath’i.

“Kita perlu memahami bahwa dengan adanya perbedaan dalam memulai atau mengakhiri puasa adalah bagian dari dinamika umat yang alami,” lanjut Anwar. Ia mendorong setiap orang untuk saling memahami dan menghormati satu sama lain dalam konteks perbedaan ini.

Di saat yang sama, Anwar menambahkan pentingnya menjaga keutuhan umat Islam di Indonesia. “Harmoni yang terjaga antara berbagai perbedaan akan menghasilkan persatuan yang kuat,” ujarnya.

Pentingnya Pendidikan dan Pemahaman Tentang Perbedaan

Anwar juga mengajak masyarakat untuk membiasakan diri hidup dalam lingkup yang demokratis. Menurutnya, perbedaan tidak hanya harus dihargai tetapi juga dijadikan sebagai sarana belajar dan memperkaya pengetahuan.

“Jika dikelola dengan baik, perbedaan bisa menciptakan harmoni yang bermanfaat untuk persatuan bangsa,” ungkapnya. Anwar percaya bahwa stabilitas nasional sangat dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat menanggapi perbedaan tersebut.

Warga Indonesia harus menyadari bahwa memilih paham atau organisasi tertentu bukanlah hal yang terlarang, asalkan tetap dalam koridor saling menghargai. “Mari kita sambut perbedaan ini sebagai bagian dari kekayaan bangsa,” ajaknya.

Penetapan 1 Ramadan: Perbedaan Metode yang Perlu Dipahami

Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari, berdasarkan pada metode visibilitas hilal yang tidak terlihat saat pemantauan. Hal ini menunjukkan mau tidak mau, ada perbedaan antara penetapan pemerintah dan beberapa kelompok masyarakat, khususnya Muhammadiyah yang memutuskan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari.

Dengan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menerapkan metode baru untuk menentukan awal bulan Ramadan. Ini menggantikan metode wujudul hilal yang sebelumnya dianggap kurang akurat dalam menentukan awal bulan puasa.

Seiring dengan penerapan KHGT, Muhammadiyah percaya bahwa metode ini diperlukan untuk mencapai kesepakatan yang lebih global. Salah satu faktornya adalah posisi hilal yang harus terpenuhi setelah ijtimak dengan ketinggian dan elongasi yang ditentukan, bukan terbatas pada suatu wilayah tertentu.

Related posts