Pada hari Rabu, 11 Februari 2026, Liverpool meraih kemenangan tipis saat bertanding melawan Sunderland di ajang Liga Inggris. Dalam pertandingan tersebut, tim yang mengenakan jersey hijau ini tampak kesulitan menghadapi permainan lawan di babak pertama, jauh dari prediksi sebagai juara bertahan yang ingin mempertahankan gelar mereka.
Dalam 45 menit awal, Liverpool kesulitan menembus pertahanan Sunderland. Serangan yang dibangun oleh Virgil van Dijk dan rekan-rekannya sering kali terhenti di batas pertahanan lawan, sehingga frustrasi mulai menghinggapi para pemain.
Suasana di Stadion of Light cukup menegangkan, dengan pemain Liverpool yang tampak silau menghadapi atmosfer laga. Kualitas tembakan mereka pun cukup rendah, membuat peluang demi peluang menjadi tidak berarti.
Kinerja Buruk di Babak Pertama Memengaruhi Mentalitas Tim
Pada babak pertama, Liverpool kehilangan arah dalam permainan mereka. Serangan demi serangan tidak menghasilkan gol, sementara Sunderland bermain solid dalam bertahan.
Para pemain Liverpool tampak frustrasi, kehilangan kepercayaan diri dalam membangun permainan. Namun, kendati demikian, mereka terus berusaha untuk menemukan ritme permainan yang benar.
Satu-satunya peluang emas di babak pertama gagal dimanfaatkan dengan baik. Ketiadaan gol di paruh pertama pertandingan membuat tim tamu harus berusaha lebih keras di babak kedua.
Peningkatan Performansi Pemain di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, cuaca berubah dengan turunnya hujan. Abstraksi ini tampak membawa berkah, karena permainan Liverpool mulai meningkat pesat.
Serangan dari sisi kanan, terutama melalui Mo Salah, menjadi ancaman utama untuk pertahanan Sunderland. Liverpool mulai tampil lebih hidup dan mencari celah dalam barisan pertahanan lawan.
Moment yang ditunggu akhirnya tiba pada menit ke-61. Van Dijk berhasil mencetak gol yang berawal dari tendangan sudut, dimana bola memantul sebelum masuk ke gawang berkat sedikit sentuhan dari pemain lawan.
Respons Cepat dari Sunderland dan Pertahanan Kuat Liverpool
Setelah gol tersebut, Sunderland segera melakukan tekanan, berusaha untuk menyamakan kedudukan. Namun, pertahanan Liverpool yang solid berhasil menahan segala bentuk serangan.
Bola-bola liar dan serangan balik yang cepat menjadi strategi yang coba diterapkan oleh tim tuan rumah. Namun, semua usaha itu tampaknya sia-sia di hadapan pertahanan Liverpool yang terorganisir.
Meski Sunderland berusaha keras, mereka hanya dapat menciptakan tekanan untuk waktu yang singkat sebelum Liverpool kembali mengambil alih kendali permainan.
Kemandekan di Lini Depan Mengakibatkan Rasa Frustrasi
Walaupun Liverpool berhasil mencetak gol, lini depan mereka tetap tampak mandek. Peluang yang tercipta setelah gol tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para penyerang Liverpool.
Kekurangan kreativitas dalam serangan menjadi sorotan, terutama bagi Mo Salah yang terlihat belum menemukan kembali ritme terbaiknya. Beberapa kesempatan untuk menambah gol terlewatkan begitu saja.
Dengan permainan yang tumpul dan kurangnya ketajaman, Liverpool harus menghadapi kenyataan bahwa meski menguasai pertandingan, hasil akhir tidak sesuai harapan. Tidak ada gol tambahan yang tercipta hingga peluit panjang berbunyi.
Kemenangan ini, meskipun sangat penting, membawa Liverpool tetap berada di posisi keenam klasemen dengan total 42 poin dari 26 pertandingan. Selisih 14 poin dari Arsenal sebagai pemuncak klasemen menunjukkan perlunya perbaikan lebih lanjut untuk mempertahankan harapan meraih gelar.
