Seorang pria warga negara Amerika Serikat, Brad Alan (61), telah menghembuskan napas terakhirnya saat melakukan trekking di Taman Nasional Bali Barat, Kabupaten Buleleng, Bali. Peristiwa tragis ini dilaporkan terjadi pada Jumat, 30 Januari, sekitar pukul 10.10 WITA, menciptakan duka bagi keluarga dan rekan-rekannya.
Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz, menyampaikan bahwa korban dinyatakan telah meninggal oleh petugas medis Puskesmas II Melaya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Korban diketahui melakukan pendakian di kawasan bervegetasi lebat yang terkenal dengan keindahannya.
Selain itu, korban sedang berlibur dan memilih Bali sebagai tempat untuk menikmati aktivitas alam. Malangnya, trekking yang seharusnya menyenangkan berujung pada kejadian memilukan yang tak terduga.
Kronologi Peristiwa yang Menggugah Keprihatinan
Peristiwa dimulai saat Brad Alan dan pemandunya memasuki kawasan hutan, sekitar seratus meter dari titik awal. Kurang lebih di tengah perjalanan, korban mendadak berpegangan pada sebuah pohon, dengan napas yang terlihat sangat tersengal-sengal.
Pemandu segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dan berusaha membantu dengan memapahnya untuk duduk. Namun, beberapa saat setelah duduk, korban terjatuh dan kehilangan kesadaran, memicu panik di antara mereka.
Pemandu kemudian melapor ke Posko Taman Nasional Bali Barat yang terdekat, meminta bantuan untuk penanganan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan pentingnya kehadiran penuntun saat melakukan aktivitas trekking di lokasi yang berisiko.
Penanganan Medis yang Terlambat dan Penyebab Kematian
Aparat kepolisian dan tim penyelamat dari TNBB segera menuju lokasi setelah laporan diterima. Mereka tiba di tempat kejadian sekitar pukul 10.30 WITA dan langsung melakukan evakuasi terhadap korban.
Korban kemudian dipindahkan dengan tandu keluar dari hutan dan dibawa ke Puskesmas Melaya II di Kabupaten Jembrana untuk mendapatkan perawatan medis. Sayangnya, korban dinyatakan meninggal dalam perjalanan.
Pemeriksaan awal oleh tenaga medis menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, yang menjelaskan mengapa keluarganya tidak meminta visum atau autopsi. Menurut penjelasan pihak kesehatan, kematian disebabkan oleh kelelahan akibat aktivitas trekking yang cukup berat.
Reaksi Pihak Hotel dan Keluarga Korban
Pihak pengelola hotel tempat korban menginap segera melakukan koordinasi dengan Konsulat Amerika Serikat untuk memfasilitasi proses selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi antara pengelola hotel dan pihak luar sangat penting dalam situasi darurat.
Keluarga korban menyatakan bahwa mereka tidak ingin melakukan visum atau autopsi, yang menunjukkan keinginan untuk merelakan tanpa proses yang panjang. Keputusan tersebut langsung disampaikan melalui pengelola hotel.
Reaksi dari masyarakat dan komunitas lokal juga muncul, mengingat Bali merupakan tujuan wisata yang sering kali memiliki insiden serupa. Kesadaran mengenai keselamatan saat trekking di alam bebas perlu diperhatikan lebih serius lagi.
