Ratusan jagal sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, menolak rencana relokasi aktivitas penyembelihan ke RPH Tambak Osowilangun. Mereka membawa sejumlah ekor sapi, menandakan betapa seriusnya masalah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan yang dianggap dapat mengancam mata pencaharian mereka. Salah satu perwakilan, Kukuh, menekankan bahwa RPH Pegirian bukan sekadar tempat kerja, melainkan telah menjadi bagian penting dari penghidupan mereka selama bertahun-tahun.
“RPH Pegirian adalah nyawa kami. Jika dipindahkan, itu seperti mematikan sumber penghidupan kami,” teriak Kukuh di atas mobil komando, menambah suasana tegang dalam demonstrasi itu.
Ketidakpuasan Jelas Terlihat dalam Aksi Unjuk Rasa Jagal
Selain jagal, demonstrasi ini juga dihadiri oleh pedagang daging dari Pasar Arimbi. Mereka khawatir bahwa relokasi ke wilayah Surabaya Barat akan berdampak langsung pada distribusi dan kualitas daging yang mereka jual. “Akses ke Tambak Osowilangun terlalu jauh. Biaya operasional pasti akan naik,” kata Luluk, anggota pedagang.
Perwakilan lain, Abdullah Mansyur, juga mengungkapkan keinginan agar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membatalkan rencana pemindahan RPH Pegirian. “Kami tidak ingin keputusan ini merusak kehidupa kami,” tegas Abdullah di depan demonstran.
Dalam tuntutannya, mereka juga meminta agar Surat Edaran yang menyangkut pemindahan jagal dicabut. Abdullah mengancam akan mogok kerja sebagai langkah terakhir jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh Pemkot Surabaya.
Dampak Relokasi terhadap Ekonomi dan Distribusi Daging
Abdullah menekankan bahwa sekitar 50 jagal bekerja di RPH Pegirian, dan peralihan ke Tambak Osowilangun dapat mengganggu pasokan daging di Surabaya. “Tindakan mogok ini bisa berdampak besar pada kebutuhan daging di pasar,” ujarnya dengan nada serius.
Dalam demonstrasi itu, mereka mengancam akan menghentikan semua pasokan daging ke Kota Surabaya jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. “Pemerintah harus menyadari bahwa mogok ini adalah alarm bagi semua pihak,” tambah Abdullah.
Secara geografis, RPH Pegirian terletak di Kecamatan Semampir, sedangkan RPH Tambak Osowilangun berada di Kecamatan Benowo. Selisih jarak 15 kilometer menjadi isu tambahan bagi para jagal dan pedagang daging.
Respon dari DPRD Surabaya
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fatoni, menjanjikan bahwa pihaknya akan memberikan kesempatan kepada jagal untuk berdialog. “Kami ingin menciptakan sebuah ruang bagi mereka untuk berbicara dan mencari solusi,” jelas Arif.
Arif juga menyoroti pentingnya komunikasi yang lebih baik antara RPH dan para jagal. “Kami memahami bahwa belum ada dialog yang komprehensif dari pihak RPH,” ungkapnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PT RPH Surabaya, Fajar Arifianto Isnugroho, mengakui ada dampak dari mogok massal terhadap distribusi daging segar. Dia meminta maaf kepada masyarakat atas kesulitan yang mungkin dialami.
Perlunya Persiapan dan Transisi dalam Pemindahan RPH
Fajar menyatakan bahwa meskipun ada dampak mogok, ketersediaan daging sapi di masyarakat masih terjaga. Mereka masih dapat membeli daging dari outlet resmi atau pasar tradisional lainnya.
Terkait rencana relokasi, Fajar menjelaskan bahwa pemindahan lokasi pemotongan tidak akan mempengaruhi pusat perdagangan daging, yang tetap beroperasi di tempat lama. “Pasar Arimbi tidak akan pindah,” tegasnya.
Namun, RPH menjadwalkan hingga akhir Idulfitri 2026 bagi para jagal Pegirian untuk menyesuaikan diri. Setelah waktu itu, semua aktivitas pemotongan akan dialihkan ke lokasi baru, dan mereka akan menjalankan kedua lokasi secara bersamaan untuk memastikan transisi berjalan lancar.
